Sabtu, 23 Juli 2011

Sejarah Terbentuknya BPUPKI




PENDAHULUAN
A Latar Belakang
Proklamasi kemerdekaan Indonesia menunjukkan keberanian bangsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri. Namun proklamasi itu tidak berlangsung lancar begitu saja. Proklamasi itu lahir dari perbedaan sikap yang jelas antara kalangan yang menginginkan kemerdekaan Indonesia sebagai perjuangan sendiri dan kalangan yang tidak mempersoalkan kemerdekaan itu merupakan pemberian jepang.
Jepang mengeluarkan keputusan untuk membentuk Panitia penyelidikan Usah-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang diumumkan pada tanggal 1 maret 1945, realisasinya baru tanggal 29 April 1945, bersamaan dengan janji kemerdekaan yang kedua yang dimuat didalam Maklumat Guneseikan (pembesar Tertinggi Sipil dan Pemerintahan Militer Jepang di jwa dan Madura) no.23 Badan Panitia Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (Dokuritsu Jumbaai Coo Sakai), bertugas untuk mengumpulkan usul-usul guna dijadikan bahan dalam memasuki Indonesia merdeka. Tetapi pelantikannya baru dilakukan Jepang pada tanggal 28 Mei 1945 dengan ketuannya Dr. Radjimaan Widyodiningrat dengan beranggotakan 68 orang dari berbagai golonagn yang diangkat oleh Jepang sendiri.
B Rumusan Masalah
  1. Mengapa terbentuknya BPUPKI?
  2. Bagaimana sejarah pembentukan BPUPKI?
  3. Bagaimana sejarah Piagam Jakarta?
C Tujuan
1. Untuk mengetahui terbentuknya BPUPKI
2. Untuk mengetahui sejarah pembentukan BPUPKI
3. Untuk mengetahui sejarah Piagam Jakarta.
PEMBAHASAN
1. Sejarah Terbentuknya BPUPKI
Pada bulan maret 1942, pemerintah colonial Belanda menyerahkan Indonesia kepada Jepang. Setelah selama 3,5 tahun Indonesia berada ditangan Jepang. Pada mulanya, penguasa Jepang memerintah Indonesia dengan sewenang-wenang. Hasil bumi dirampas sehingga rakyat hidup kelaparan. Selain itu, banyak pemuda dipaksa menjadi romusha (pekerja paksa). Ketika tentara Jepang menderita banyak kekalahan di medan perang, Jepang kemudian mengajak para pemimpin pergerakan Indonesia untuk bekerja sama membantu usaha perangnya. Sebagai gantinya Indonesia dijanjikan akan diberi kemerdekaan.
Pada tanggal 1maret 1945, pemerintah militer Jepang di Jakarta mengumumkan berdirinya Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Dalam bahasa Jepang Dokuritsu Junbai Cosakai. Bertugas untuk mengumpulkan usul-usul guna dijadikan bahan dalam memasuki Indonesia merdeka. Tetapi pelantikannya baru dilakukan Jepang pada tanggal 28 Mei 1945 dengan ketuannya Dr. Radjimaan Widyodiningrat dengan beranggotakan 68 orang yaitu 60 warga Indonesia dan 8 warga negara asing dari berbagai golongan yang diangkat oleh Jepang sendiri. 1
68 orang itu adalah:
No
Nama anggota
Tempat, tanggal lahir
Jabatan
1
Abdul Kaffar
Sampang, Jatim, 14-05-1913
Bekas Kapten Mantan Barisan Madura.
2
Abdul Kahar Muzakir
Gading,Yogyakarta16-04-1907
Peg Kantor Kooti Zimu Kyoku Yogya bag Ekonomi
3
Agus Muhsin Dasaad
Sulu, Filipina 25-08-1905
Pemimpin NV Pabrik Tenun, Wa Ketua Jakarta Tokubetu Si Sangi Kai.
4
AR Baswedan
Surabaya, 11-09-1908
Angg Tyuuoo Sangi In. Angg NIP.1946
5
BandoroPangeran Hario Purubojo.
Yogyakarta 25-06-1906
Pembesar Kawedanan Kori Kraton Yogyakarta, Angg Tyuuoo Sangi In
6
Bendoro Kanjeng Pangeran Ario Suryohamijoyo
Solo, 13-10-1905
Ajudan Sri Susuhunan Surakarta
7
Bendoro Pangeran Hario Bintoro
Yogyakarta 02-08-1914
Pejabat di Kesultanan Yogyakarta
8
Dr. Kanjeng Raden Tumenggung Rajiman Wedyodiningrat
Yogyakarta 21-04-1879
Pertanian di Bulak Ngalaran Walikukun Kab Ngawi
9
Dr. Raden Buntaran Martoatmojo.
Loano, Purworejo 11-01-1896
Ka RSU Negeri Semarang, Wa Ketua Syuu Hookoo Kai Semarang dan Tyuuoo Sangi In. Men Kes I
10
Dr. Raden Suleiman Effendi Kusumaatmaja
Purwakarta 08-09-1898
Ketua Tihoo Hooin Semarang, Kendal, Semarang Ken Kooto Hooin Kinmu. Ketua MA I
11
Dr. Samsi Sastrawidagda.
Solo 13-03-1894
Ka Kantor Partikelir Tatausaha dan Pajak Surabaya, Angg Tyuuoo Sangi In Men Keu I
12
Dr. Sukiman Wiryosanjoyo
Sewor, Solo 19-06-1896
Dokter Partikelir di Yogyakarta
13
Drs. Kanjeng Raden Mas Hario Sosrodiningrat
Solo 01-12-1902
Solo Kooti Soomuu Tyookan -
14
Drs. Muhammad Hatta.
Bukit Tinggi, Sumbar 12-08-1902
Angg Tyuuoo Sangi In, Wa Ketua Hookoo Kaigi Jawa Hookookai. Wakil Presiden I
15
Haji A.A. Sanusi
Cantayan, Sukabumi 18-09-1888
Angg Bogor Syuu Sangi Kai
16
Haji Abdul Wahid Hasyim
Jombang 12-02-1913
Berniaga, Penasehat Kantor Penyelidikan Surabaya
17
Haji Agus Salim
Sumbar 08-10-1884
Koto Gadang, IV Koto, Agam
18
Ir. Pangeran Muhammad Nur.
Martapura, Banjarmasin 24-07-1901
Pemimpin Kantor Pengairan BondowosoGubernur Kalimantan I
19
Ir. Raden Ashar Sutejo Munandar
Siluwak Sawangan Batang 30-04-1914
Ingenieur Seibu Jawa Denki Zidyoo Koosya Bogor [versi: Suisin Taityoo Ngawi]
20
Ir. Raden Mas Panji Surahman Cokroadisuryo
Wonosobo 30-08-1894
Pem Kantor Pusat Kerajinan dan Jawata Tera Men Kemakmuran I
21
Ir. Raden Ruseno Suryohadikusumo
Madiun, 08-08-1908
Ingenieur, Pem distrik II Pengairan Jatim Kediri, Angg Tyuuoo Sangi In, Wa Penasehat Syuu Sangi Kai Kediri
22
Ir. Sukarno
Surabaya, 06-06-1901
Penasehat Tyuuoo Sangi In, Sango Soomubu Jakarta Presiden I
23
K.H. Abdul Halim (Muhammad Syatari),
Majalengka, 17-06-1887
Penasehat Perikatan Umat Islam Majalengka, Angg Tyuuoo Sangi In Jakarta.
24
Kanjeng Raden Mas Tumenggung Ario Wuryaningrat
Solo 12-03-1885
Bupati Nayoko Kaprah Tengan di Kraton Solo
25
Ki Bagus Hadikusumo
Yogyakarta xx-xx-1890
Angg Tyuuoo Sangi In, Ketua Muhammadiyah
26
Ki Hajar Dewantara
Yogyakarta 08-05-1889
Angg Tyuuoo Sangi In Soomu Jawa Hookookai Yogyakarta. Menteri P&K I
27
Kiai Haji Abdul Fatah Hasan

Angg Banten Syuu Sangi Kai.
28
Kiai Haji Mas Mansur
Surabaya 25-06-1896
Kamon Shuumubu, Masyumi Jakarta
29
Kiai Haji Masykur
Singasari Malang 30-12-1902
Tokoh NU
30
Liem Koen Hian
Banjarmasin xx-xx-1896
N/A Pindah kewarga-negaraan Liem Koen Hian
31
Mas Aris
Karanganyar,Kebumen 02-01-1901
Ketua Pati Syuu Sangi Kai, Angg Tyuuoo Sangi In.
32
Mas Sutarjo Kartohadikusumo
Kunduran, Blora 22-10-1892
Syuutyookan Jakarta. Gubernur Jabar I
33
Mr. A. A. Maramis
Manado 20-06-1897
Advokat Jakarta. Meneg Kabinet I
34
Mr. Kanjeng Raden Mas Tumenggung Wongsonagoro
Solo 20-04-1897
Bupati Sragen Residen
35
Mr. Mas Besar Martokusumo
Brebes 08-07-1893
Walikota Tegal
36
Mr. Mas Susanto Tirtoprojo.
Solo 03-03-1900
Madiun Sityoo
37
Mr. Muhammad Yamin
Sawahlunto, Sumbar 23-08-1903
Penasehat Sendenbu-sendenka (Sanyoo-Sendenbu)
38
Mr. Raden Ahmad Subarjo
Krawang 23-03-1897
Pem bag Informasi Gunseikanbu cabang I Jakarta Men LN I
39
Mr. Raden Hindromartono
Rembang 31-12-1908
Shokuin Naimobu Roodo Kyoku
40
Mr. Raden Mas Sartono.
Wonogiri 05-08-1900
Wonogiri 05-08-1900
41
Mr. Raden Panji Singgih
Malang 17-10-1894
Pembesar Umum Naimuu Koseika Tyoo Jakarta
42
Mr. Raden Samsudin Samsoedin
Sukabumi 01-01-1908

43
Mr. Raden Suwandi
Ngawi 31-10-1898
Sanyo Bunkyoo Kyoku
44
Mr. Raden, Sastromulyono
Kudus 16-10-1898
Hakim Kootoo Hooin dan Tihoo Hooin Jakarta Tangerang
45
Mr. Yohanes Latuharhary
Ambon 06-07-1900
Peg. Somubu Jakarta. Gubernur Maluku I
46
Ny. Mr. Raden Ayu Maria Ulfah Santoso
Semarang 18-08-1911
Peg Syhobu Jakarta Men Sos 1946
47
Ny. Raden Nganten Siti Sukaptinah Sunaryo Mangunpuspito
Yogyakarta 28-12-1907
Kabag Wanita Kantor Pus Jawa Hookoo Kai Jakarta
48
Oey Tiang Tjoei
Jakarta xx-xx-1893
Angg Tyuuoo Sangi In, Presiden Hua Chiao Tong Hui
49
Oey Tjong Hauw
Semarang xx-xx-1904
Angg Tyuuoo Sangi In
50
P.F. Dahler
Semarang 21-02-1883
N/A
51
Parada Harahap
Sumut 15-12-1899
Direktur Percetakan dan Harian Sinar Baru Semarang. Gelar Maharaja Goenoeng Moeda
52
Prof. Dr. Mr. Raden Supomo
Solo 22-01-1903
Pem. Hooki Kyoku, Angg Saikoo Hooin Men Keh I
53
Prof. Dr. Pangeran Ario Husein Jayadiningrat
Kramat Watu, Serang 08-12-1886
Syumubutyoo, Angg Tyuuoo Sangi In Jakarta
54
Prof. Dr. Raden Jenal Asikin Wijaya Kusuma
Mononjaya, Tasikmalaya 07-06-1891
Wa Pemimpin RSU Negeri, Guru Tinggi Ika Dai Gaku Jakarta.
55
Raden Abdul Kadir
Binjai, Sumut 06-06-1906
Opsir PETA
56
Raden Abdulrahim Pratalykrama.
Sumenep, Jatim10-06-1898
Wa Residen Kediri Residen Kediri
57
Raden Abikusno Cokrosuyoso
Ponorogo 16-06-1897
Architectparticulir, Ketua bag Umum kantor pusat Jawa Hookoo Kai Men PU I
58
Raden Adipati Ario Sumitro Kolopaking Purbonegoro
Papringan, Banyumas 14-06-1887
Bupati Banjarnegara
59
Raden Adipati Wiranatakusuma
Bandung 08-08-1888
Bupati Bandung Men Dagri I
60
Raden Asikin Natanegara
Bogor 23-12-1902
Ikyu Keishi pada Keimubu
61
Raden Mas Margono Joyohadikusumo
Purbolinggo, 6-05-1894
Penulis Koperasi Kantor Pusat Koperasi Perdagangan Dagri Jakarta
62
Raden Mas Tumenggung Ario Suryo
Magetan, 09-07-1895
Residen Bojonegoro Gubernur Jatim I
63
Raden Oto Iskandardinata
Bojongsoang, Kab Bandung 31-03-1897
Angg Tyuuoo Sangi In, Zissenkyokutyoo Jawa Hookookai Jakarta. Meneg Kabinet I
64
Raden Panji Suroso
Porong, Sidoarjo 03-11-1893
Porong, Sidoarjo 03-11-1893
65
Raden Ruslan Wongsokusumo
Tanah Merah, Sampang, Madura, 15-10-1901
Wa Ketua Perseroan Tanggungan Jiwa Bumiputera Jatim, Pembantu kantor cab Asia Raya dan Jawa Shimbun
66
Raden Sudirman
Semarang 24-12-1890
Wa Ketua Syuu Hookoo Kai dan Penasehat Surabaya Syuu Sangi Kai Residen Surabaya
67
Raden Sukarjo Wiryopranoto.
Kasugihan, Cilacap 05-06-1903
Pem Surat Kabar Aria Raya Jurubicara Negara
68
Tan Eng Hoa
Semarang xx-xx-1907
N/A
2. Sejarah Pembentukan BPUPKI
Sidang pertama BPUPKI berlangsung dari tanggal 29 Mei-1Juni 1945. dalam sidang itu Dr. Radjimaan Widyodiningrat mengajukan pertanyaan mengenai rumusan dasar Negara Indonesia yang akan dibentuk. Pertanyaan ini mengawali proses perumusan Pancasila. Menanggapi hal itu, tampilah tiga orang pembicara, yaitu Mr. Muhammad Yamin, Prof.Dr. Soepomo, dan Ir.Soekarno.
a. Mr.Muhammad Yamin.
Dalam sidang BPUPKI tanggal 29 Mei 1945 Mr Muh . Yamin mendapatkan kesempatan pertama untuk penyampaian rumusan Dasar Negara Indonesia Merdeka adalah mengemukakan lima” Ajas Dasar Negara Republik Indonesia ”sebagai berikut :
a) Peri kebangsaan
b) Peri kemusiaan
c) Peri ke-tuhanan
d) PeriKerakyataan
e) Kesejahteraan rakyat
b. Prof.Dr. Soepomo
Pada tanggal 31 mei 1945 prof. Dr.Mr Soepomo mengajukan Dasar Negara Indonesia Merdeka yaitu sebagai berikut :
a) Persatuan
b) Kekeluargaan
c) Keseimbangan
d) Musyawarah
e) Keadilan sosial
c. Ir.Soekarno
Dalam sidang tanggal 1Juni 1945, Ir.Soekarno berpidato secara lisan (tanpa teks) mengenai calon rumusan dasar negara Indonesia rumusan dasar Negara tersebut kemudian diberi nama “pancasila”. Nama pancasila merupakan usulan nama dari seoarng temannya yang ahli bahasa. Pancasila sendiri berarti “lima dasar” adapun isinya adalah sebagai berikut:
Kebangsaan Indonesia
b) Internasionalisme atau Perikemanusiaan
c) Mufakat atau demokrasi
d) Kesejahteraan sosial
e) Ketuhanan Yang Maha Esa
Sesudah sidang pertama itu, pada tanggal 22juni 1945, sembilan orang anggota BPUPKI dari kelompok nasionalis dan kelompok Islam.
Kelompok Nasionalis yaitu Ir.Soekarno, Drs.Moh. Hatta, Mr. Muh. Yamin, Mr. Ahmad soebardjo, Mr. A.A . Maramis,
Kelompok Islam yaitu Abdul kadir Muzakir, K. H. Wachid Hasjim, H. Agus Salim, Abikusno Tjokrosjoso. Telah membentuk suatu panitia kecil yang menghasilkan suatu dokumen yang berisikan tujuan dan maksud pendirian Negara Indonesia merdeka. Dokumen tersebut sekarang yang dikenal dengan Piagam Jakarta.2
3. Sejarah Piagam Jakarta
Piagam Jakarta adalah hasil kompromi tentang dasar Negara Indonesia yang dirumuskan Panitia sembilan dan disetujui pada tanggal 22 Juni 1945 antara pihak Islam dan kelompok Nasionalis. Panitia sembilan merupakan panitia kecil yang dibentuk oleh BPUPKI.
Gagasan tentang Negara Islam baru tampil kepermukan secara formal dalam sidang BPUPKI Mei sampai Juli 1945. Terdapat tokoh seperti KH. A. Kahar Muzakir (Muhammadiyah) dan K.H Wahid Hasyim (NU) yang mengusulkan agar Islam dijadikan dasar Negara Indonesia merdeka. Mereka berhadapan dengan kelompok nasional seperti Soekarno dam M. Hatta yang menginginkan pancasila sebagai dasar Negara. Sebenarnya wakil golongan Islam hanya minoritas bila diingat hanya 11orang. Ini terhitung minoritas bila di ingat badan bentukan Jepang 68 orang. Umat Islam diwakili 11 orang yaitu: Abikusno Cokrosuyoso, KH. Abdul Halim, KH. A. Sanusi, Ki Bagus Hadikusumo, KH. Masykur, KH.Mas Mansyur, KH. A. Kahar Muzakir, H. Agus Salim, Dr. Sukisman, K.H Wahid Hasyim, A.R Baswedan.
Sidang pertama BPUPKI diadakan pada tanggal 29 Mei sampai 1 Juni 1945 bertempat di Pejambon Jakarta. Dalam pidato pembukannya Radjiman selaku ketua mengajukan dasar Negara Indonesia yang akan dibentuk. Pembahasan mengenai dasar Negara ini bermacam pendapat telah diajukan oleh berbagai golongan, dimana golongan nasionalis sekuler senantiasa sinis dan mengejek tentang dasar Islam bagi Negara Indonesia kelak, yang diusulkan oleh Bagus Hadikusumo berkata:”
“padahal sudah jelas dan tuan-tuan pun mengetahui bahwa agama itu petunjuk dari Tuhan Rabbul’Alamin, agar menjadi pedoman hidup manusia untuk mencapai kebaikan, kebahagian, dan kesejahteraan bersama didunia maupun di akhirat, dan untuk menjadi tali kebangsaan, persatuan dan persaudaraan lahir batin.
Tuan-tuan yang terhormat: tuan-tuan telah maklum apabila ada seorang yang hendak membentangkan dan mengetengahkan soal agama atau meninjau suatu perkara dari agama, rupanya ia takut kalau-kalau pembicaraan itu menimbulkan perselisihan dan perpecahan Padahal sebenarnya bukan hanya perkara agama saja yang dapat menimbulkan perselisihan dan perpecahan apabila diperbincanakan dengan tidak berdasarkan kejujuran, kesucian dan keikhlasan. Perkara apakah bentuk Negara ini republic atau monarki, serikat atau kesatuan, itupun dapat menimbulkan perpecahan dan perselisihan yang amat hebat dan dahsyat… Bila pembicaran dan permusyawaratan itu tidak didasarkan kejujuran, kesucian dan keikhlasan, tetapi berdasarkan keinginan perseorangan atau golongan untuk menang sendiri. Atau karena memang kita telah kena pengaruh politik memecah belah, gemar berselisih, suka bercekcok, seperti dikatakaan zaman penjajahan Belanda”.
“Tuan-tuan yang terhormat, sekarang telah tuan-tuan ketahui, kemarin ada pembicaraan yang membicarakan mengenai agama Islam. Salah seorang dari pembicaraan itu telah mengucapkan perkataan yang sekiranya diucapkan dizaman dahulu (penjajahan) mungkin menimbulkan amarah kaum muslimin karena merasa terhina, perkataan itu adalah:” saya lebih suka berkumpul dengan orang Budha dari pada orang Islam yang jahat(tidak baik)”. Tetapi pada masa sekarang saya tidak marah mendengar ucapan semacam itu, Karena kita bersaudara dan bersatu hati, sayang menyayangi. Marilah kita kembali kepada pembicaraan semua, yaitu jika tuan-tuan bersungguh-sungguh menghendaki Negara Indonesia mempunyai rakyat yang kuat bersatu padu berdasarkan persaudaraan yang erat dan kekeluargaan serta gotong royong, dirikanlah Negara kita diatas petunjuk Al-Qur’an dan Al-Hadits seperti yang sudah saya terangkan tadi.”3
Tapi rupanya para pendiri republic ini berupaya mencapai consensus. Lalu dibentuk sebuah panitia kecil dengan anggota diantaranya : Soekaarno, M. Hatta, KH. A. Kahar Muzakir, H. Agus Salim, K.H Wahid Hasyim, A.A Maramis. Dalam sebuah sidang paripurna BPUPKI 10 Juli 1945. Soekarno melaporkan hasil kerja panitia kecil itu, yang dicapai melalui debat sengit antara kelompok Islam dan kelompok nasionalis. Hasilnya: sebuah persetujuan yang dimaksud Soekarno itulah yang akhirnya dikenal sebagaai Piagam Jakarta ini berupa konsep pembukaan UUD. Tapi pada kata ketuhanaan, ditambahi dengan anak kalimat yang terdiri dari tujuh kata yang berbunyi “ dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya”. Dalam rapat BPUPKI selanjutnya Piagam Jakarta masih menjadi bahan perdebatan yang melelahkan. Latohaarhary anggota BPUPKI yang beragama keristen misalnya keberatan pada tujuh kata. Menurut dia akibatnya besar terutama terhadap agama lain. Anggota seperti Wongsonegoro dan Hoeseindjadjadiningrat malah merisaukan anak kalimat itu akan menimbulkan fanatisme bagi orang Islam.
Dengan kewibawaan Soekarno dan kegigihan kelompok Islam untuk mempertahankannya. Sidang dapat menerima Piagam Jakarta.4 Didalam piagam Jakarta terdapat lima butir yang kelak menjadi Pancasila dari lima sebagai berikut:
  1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerayaktaan yang dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
  5. Keadilaan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dapat ditemukannya di buku Piagam Jakarta 22 Juni 1945 yang ditulis Endang Saifudin Ashari berbagai perdebatan sengit terus berlangsung sebagai dampak Piagam Jakarta. Ketika bicara jabatan presiden dalam UUD misalnya kelompok Islam mengusulkan presiden harus orang Indonesia asli dan beragama Islam (pasal 4). Usul tadi ditentang kelompok Nasionalis. Alasannya karena itu bertentangan dengan pasal 28 UUD yang berbunyi Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama apapun dan untuk beribadat menurut agama masing-masing. Perdebatan KH.Kahar Muzakar memukul meja dan minta semua yang berbau Islam dicoret saja dari konsep UUD. Sidang hari itu bubar tanpa keputusan. Tapi esok harinya 16 Juli 1945 usul golongan Islam diterima juga dengan bantuan Soekarno dalam sidang panitia persiapan kemerdekaan Indonesia PPKI 18 agustus 1945 sehari setelah proklamasi anak kalimat Piagam Jakarta dicoret dari mukadimmah UUD 1945. Selanjutnya pada pengesahan UUD 1945 tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI, istilah muqaddimah diubah mejadi Pembukaan UUD setelah butir pertama diganti menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Perubahan butir pertama dilakukan oleh Drs. M.Hatta atas usul A.A Maramis setelah berkonstultasi dengan Teuku Muhammad Hassan, Hasan Singodimedjo dan Ki Bagus Hadukusumo.
Dari cerita yang diungkapkan, pencoretan itu atas permintaan seorang opsir angkatan laut Jepang kepada Hatta. Menurut opsir tersebut bila kata-kata tidak dicabut golongan keristen dan katolik di Indonesia akan berdiri diluar republic yang baru saja diproklamasikan ini. Hatta kemudian berhasil melobi ketua Muhammadiyah KH. Bagus Hadikusumo sehingga kelompok islam menyetujui kata-kata itu dihapuskan.5
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Qadir Jaelani, Sejarah Perjuangan Umat Islam Indonesia, Jakarta:Yayasan
Pengkajian Islam Madinah AL-Munawaroh 1999
Dyah Sriwilujeng, Pendidikan Kewarganegaraan, ( Jakarta: Erlangga 2006),5
Sartono Kartodirjo,dkk, Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI, Jakarta :Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan1975
Dedisyaputra.wordpress.com
Majalah Tempo.com

[1] Dyah Sriwilujeng, Pendidikan Kewarganegaraan, ( Jakarta: Erlangga 2006),5
[2] Sartono Kartodirjo,dkk, Sejarah NAsional Indonesia Jilid VI,( Jakarta :Departemen Pendidikan dan Kebudayaan1975 ), 18
[3] Abdul Qadir Jaelani, Sejarah Perjuangan Umat Islam Indonesia,(Jakarta:Yayasan Pengkajian Islam Madinah AL-Munawaroh 1999),72.
[4] Dedisyaputra.wordpress.com
[5] Majalah Tempo.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar