Sabtu, 14 Mei 2011

Sejarah Masuknya Islam di Thailand




PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di Thailand, Negeri yang mayoritasnya beragama Budha. Penduduk muslim Thailand sebagian besar berdomisili di bagian selatan Thailand, seperti di propinsi Pattani, Yala, Narathiwat, Satun dan sekitarnya yang dalam sejarahnya adalah bagian dari Daulah Islamiyyah Pattani. Dengan jumlah umat yang menjadi minoritas ini, walau menjadi agama ke-dua terbesar setelah Bhuda, umat Islam Thailand sering mendapat serangan dari umat Bhuda (umat Budha garis keras), intimidasi, bahkan pembunuhan masal.

Dalam makalah ini, pemakalah akan mencoba membahas beberapa hal penting tentang Islam di Thailand. Antara lain: Sejarah masuknya Islam di Thailand, Pekembangan Islam di Thailand, lembaga-lembaga Islam di Thailand. Hal-hal tersebut menjadi pembahasan pemakalah dalam tulisan ini, karena merupakan sebuah upaya besar dalam mengangkat dan menyebarkan agama Islam.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Sejarah Masuknya Islam di Thailand?

2. Bagaimana Pekembangan Islam di Thailand?

3. Apa Saja lembaga-lembaga Islam di Thailand?

C. Tujuan

1. Untuk Mengetahui Sejarah Masuknya Islam di Thailand.

2. Untuk Mengetahui Pekembangan Islam di Thailand.

3. Untuk Mengetahui lembaga-lembaga Islam di Thailand

A. Sejarah Masuknya Islam di Thailand

Kerajaan Thai (nama resmi bahasa Thai: ราชอาณาจักรไทย Ratcha Anachak Thai; atau Prathēt Thai), yang lebih sering disebut Thailand dalam bahasa Inggris, atau dalam bahasa aslinya Mueang Thai (dibaca: "meng-thai", sama dengan versi Inggrisnya, berarti "Negeri Thai"), adalah sebuah negara di Asia Tenggara yang berbatasan dengan Laos dan Kamboja di timur, Malaysia dan Teluk Siam di selatan, dan Myanmar dan Laut Andaman di barat. Kerajaan Thai dahulu dikenal sebagai Siam sampai tanggal 11 Mei 1949. Kata "Thai" (ไทย) berarti "kebebasan" dalam bahasa Thai, namun juga dapat merujuk kepada suku Thai, sehingga menyebabkan nama Siam masih digunakan di kalangan warga negara Thai terutama kaum minoritas Tionghoa.[1]

Muslim di Thailand sekitar 15 persen, dibandingkan penganut Budha, sekitar 80 persen. Mayoritas Muslim tinggal di Selatan Thailand, sekitar 1,5 juta jiwa, atau 80 persen dari total penduduk, khususnya di Patani, Yala dan Narathiwat, tiga provinsi yang sangat mewarnai dinamika di Thailand Selatan. Thailand Selatan terdiri dari lima provinsi: Pattani, Yala, Narathiwat, Satun dan Songkhla, dengan total penduduk 6.326.732 (Kantor Statistik Nasional, Thailand, 2002). Mayoritas penduduk Muslim terdapat di empat provinsi: Pattani, Yala, Narathiwat dan Satun, yaitu sekitar 71% diperkotaan, dan 86 % di pedesaan sedangkan di Songkhla, Muslim sekitar 19 %, minoritas, dan 76.6 % Buddha. Sementara mayoritas penduduk yang berbahasa Melayu, ratarata 70 persen berada di tiga provinsi: Pattani, Yala dan Narathiwat, sementara penduduk berbahasa China, ada di tiga provinsi: Narathiwat, 0.3 %, Pattani, 1.0 %, dan Yala, 3.0 % (Sensus Penduduk, Thailand, 2000).[2]

Ada beberapa teori tentang masuknya Islam di Thailand. Diantaranya ada yang mengatakan Islam masuk ke Thailand pada abad ke-10 melalui para pedagang dari Arab. Ada pula yang mengatakan Islam masuk ke Thailand melalui Kerajaan Samudra Pasai di Aceh.[3] Jika melihat peta Thailand, akan mendapatkan daerah-daerah yang berpenduduk muslim berada persis di sebelah Negara-negara melayu, khususnya Malaysia. Hal ini sangat berkaitan erat dengan sejarah masuknya Islam di Thailand, “jika dikatakan masuk”. Karena kenyataanya dalam sejarah, Islam bukan masuk Thailand, tapi lebih dulu ada sebelum Kerajaan Thailand “ Thai Kingdom” berdiri pada abad ke-9. Islam berada di daerah yang sekarang menjadi bagian Thailand Selatan sejak awal mula penyebaran Islam dari jazirah Arab. Hal ini bisa dilihat dari fakta sejarah, seperti lukisan kuno yang menggambarkan bangsa Arab di Ayuthaya, sebuah daerah di Thailand dan juga keberhasilan bangsa Arab dalam mendirikan Daulah Islamiyah Pattani menjadi bukti bahwa Islam sudah ada lebih dulu sebelum Kerajaan Thai. Lebih dari itu, penyebaran Islam di kawasan Asia Tenggara merupakan suatu kesatuan dakwah Islam dari Arab, masa khilafah Umar Bin Khatab” (teori arab). Entah daerah mana yang lebih dahulu didatangi oleh utusan dakwah dari Arab. Akan tetapi secara historis, Islam sudah menyebar di beberapa kawasan Asia Tenggara sejak lama, di Malakka, Aceh (Nusantara), serta Malayan Peninsula termasuk daerah melayu yang berada di daerah Siam (Thailand).

Pada tahun 1613, d’Eredia memperkirakan bahwa Patani masuk Islam sebelum Malaka yang secara tradisional dikenal sebagai “darussalaam (tempat damai) pertama” dikawasan itu (mills 1930:49)[4]. Dalam penelitiannya mengenai kedatangan Islam di Indonesia G.W.J Drewes menemukan bahwa di Trengganu, yang merupakan salah satu tetangga Patani, agama baru itu sudah dianut secara mapan menjelang 1386 atau 1387. Dari penemuan ini Wyatt dan Teeuw menarik kesimpulan bahwa tidak ada alasan mengapa (agama itu) belum sampai di Patani menjelang tahun itu terutama jika diingat bahwa Patani terkenal sebagai sebuah pusat Islam yang awal.

Pada puncak kekuasaan patani awal abad ke 17 diletakkan dasar-dasar bagi perkembangan ilmu pengetahuan Islam. Ini dimungkinkan oleh hubungan yang semakin intensif antara negeri Arab yang merupakan pusat Islam dan Asia Tenggara yang ketika itu pusat perdagangannya. Masa kejayaan yang sudah lampau itu dilambangkan oleh kaum bangsawan dan hubungan kekerabatan mereka dengan keluarga Melayu dan oleh citra Patani sebagai “tempat kelahiran Islam” dikawasan itu. Lembaga keagamaan di Patani dan daerah sekitarnya berfungsi sebagai penghubung antara golongan elit dengan rakyat. Kaum ulama berfungsi sebagai kekuatan yang mengabsahkan kekuasaan yang berlaku dan dukungan mereka sifatnya menentukan bagi pemelihara daan pengguna kekuasaan politik.

B. Pekembangan Islam Di Thailand

Dakwah Islam senantiasa di seluruh penjuru dunia. Islam adalah agama yang tidak mengenal batas dan sekat-sekat nasionalisme. Pun di sebuah negeri yang mayoritas penduduknya bukanlah pemeluk agama Islam Thailand.

Thailand dikenal sebagai negara yang pandai menjual potensi pariwisata sekaligus sebagai salah satau negara agraris yang cukup maju di Asia Tenggara. Mayoritas penduduk Thailand adalah bangsa Siam, Tionghoa dan sebagian kecil bangsa Melayu. Jumlah kaum muslim di Thailand memang tidak lebih dari 10% dari total 65 juta penduduk, namun Islam menjadi agama mayoritas kedua setelah Budha. Penduduk muslim Thailand sebagian besar berdomisili di bagian selatan Thailand, seperti di propinsi Pha Nga, Songkhla, Narathiwat dan sekitarnya yang dalam sejarahnya adalah bagian dari Daulah Islamiyyah Pattani. Kultur melayu sangat terasa di daerah selatan Thailand, khususnya daerah teluk Andaman dan beberapa daerah yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Bahkan beberapa nama daerag berasal dari bahasa Melayu, seperti Phuket yang berasal dari kata bukit dan Trang yang berasal dari kata terang.

Proses masuknya Islam di Thailand dimulai sejak kerajaan Siam mengakuisi kerajaan Pattani Raya (atau lebih dikenal oleh penduduk muslim Thai sebagai Pattani Darussalam). Pattani berasal dari kata Al Fattani yang berarti kebijaksanaan atau cerdik karena di tempat itulah banyak lahir ulama dan cendekiawan muslim terkenal. Berbagai golongan masyarakat dari tanah Jawa banyak pula yang menjadi pengajar Al Qur’an dan kitab-kitab Islam berbahasa Arab Jawi. Beberapa kitab Arab Jawi sampai saat ini masih diajarkan di beberapa sekolah muslim dan pesantren di Thailand Selatan.[5]

Perkembangan Islam di Thailand semakin pesat saat beberapa pekerja muslim dari Malaysia dan Indonesia masuk ke Thailand pada akhir abad ke-19. Saat itu mereka membantu kerajaan Thailand membangun beberapa kanal dan system perairan di Krung Theyp Mahanakhon (sekarang dikenal sebagai Propinsi Bangkok). Beberapa keluarga muslim bahkan mampu menggalang dana dan mendirikan masjid sebagai saran ibadah, sebuah masjid yang didirikan pada tahun 1949 oleh warga Indonesia dan komunitas muslim asli Thailand. Tanah wakaf masjid ini adalah milik Almarhum Hjai Saleh, seorang warga Indonesia yang bekerja di Bangkok.

Masjid Jawa adalah masjid lain yang juga didirikan oleh komunitas warga muslim Indonesia di Thailand. Sesuai dengan namanya, pendiri masjid ini adalah warga Indonesia suku Jawa yang bekerja di Thailand. Namun demikian, anak cucu para pendiri masjid ini berbicara dalam bahasa Thai dan Inggris saat menceritakan asal muasal berdirinya Masjid Jawa ini. Masjid Indonesia dan Masjid Jawa hanyalah sebagian dari lima puluhan masjid lain yang tersebar di seluruh penjuru Bangkok.

C. Lembaga-lembaga Islam di Thailand

Thailand merupakan Negara yang penduduknya minoritas muslim karena mayoritas penduduk disana beragama budha. Meskipun penduduk muslimnya minoritas tetapi di Thailand memiliki lembaga atau kelompok yang kuat dan aktif. Empat kelompok gerakan Islam yang kuat dan aktif : pertama, golongan tradisional yang sangat berpengaruh di selatan. Kedua, golongan ortodoks yang menerbitkan majalah Rabbitah. Ketiga, golongan modernis yang menerbitkan jurnal al jihad. Keempat, golongan Chularajamontri 66 yang disponsori oleh pemerintah. Terdapat beberapa kelompok gerakan [6]

Adapun kelompok-kelompok yang beragam dari organisasi separatis mengaku beroperasi dipropinsi-propinsi melayu, Muangthai selatan. Kelompok tertua adalah Barisan Nasional Pembebas Patani (BNPP) yang didirikan oleh seorang aristrokat Melayu. Barisan ini adalah kelompok Islam konservatif dan dipercaya punya hubungan yang dekat dengan Partai Islam se Malaysia (PAS) yang berkuasa di Negara tetangga Kelantan. Secara ideologis bertentangan dengan BNPP, Barisan Revolusi Nasional (BRN) yang didirikan oleh seorang guru agama, punya suatu sikap yang didasarkan pada ajaran kiri. Karena diduga beraliansi dengan Partai Komunis Malaysia (CPM), BRN Nampak kurang menerima dukungan dari rakyaat. Kelompok sabilillah ( jalan Allah) adalah kelompok berbasis kota yang muncul selama demonstrasi besar yang dilakukan Patani di akhir tahun 1975 dan awal 1976. Kelompok yang paling sedikit dikenal adalah Desember Hitam 1902 yang identitasnya diambil dari peristiwa sejarah penytuan Patani Raya kedalam kerajaaan Thai. Kelompok yang paling terkenal adalah Patani United Liberation Organization (PULO) didirikan seorang aristocrat dan memiliki tujuan menyatukan semua faksi-faksi politik yang aktif melawan imperialisme Thai nampak ditujukan pada semua masyarakat melayu.[7]

Kesimpulan

Thailand merupakan salah satu Negara di wilayah di Asia Tenggara yang mayoritas penduduknya beragama Budha. Tetapi didalam Thailan terdapad provinsi yang mayoritas penduduknya beragama Islam yaitu di Thailand Selatan. Tepatnya di Pattani dan beberapa provinsi lainnya. Islam masuk di Thailand dengan cara perdagangan oleh orang-orang Arab. Buktinya lukisan kuno yang menggambarkan bangsa Arab di Ayuthaya, sebuah daerah di Thailand dan juga keberhasilan bangsa Arab dalam mendirikan Daulah Islamiyah. Meskipun Islam merupakan agama yang minoritaas di Thailand tetapi Islam mempunyai lembaga yang berpengaruh di Thailand yaitu Patani United Liberation Organization (PULO).

DAFTAR PUSTAKA

Asrofudin.blogspot.com

Badrislam.blogspot.com

Indramunawar.blogspot.com

Saiful Muzani, Pembangunan dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara ( Jakarta: LP3ES, 1993)

Surin Pitssuwan, Islam Di Muangthai (Jakarta: LP3ES. 1989)

wikipedia.org/wiki/Islam_in_Thailand


[1] wikipedia.org/wiki/Islam_in_Thailand

[2] Indramunawar.blogspot.com

[3] badrislam.blogspot.com

[4] Surin Pitssuwan, Islam Di Muangthai (Jakarta: LP3ES. 1989) hal 37

[5] Asrofudin.blogspot.com

[6] Surin Pitssuwan, Islam Di Muangthai . . . hal xxxiv

[7] Saiful Muzani, Pembangunan dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara ( Jakarta: Pustaka LP3ES, 1993) hal 334

“Kesenian Wayang Topeng Malangan”


BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Di Indonesia mempunyai berbagai macam kesenian Islam. Salah satunya adalah kesenian Wayang. Wayang adalah salah satu seni budaya bangsa Indonesia yang menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya Wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan. Budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum agama Hindu masuk ke Pulau Jawa..

Seperti wayang yang ada di Malang atau yang biasa disebut dengan Wayang Topeng Malangan. Yang berada didaerah Dusun Pijiombo, Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Wayang Topeng Malangan merupakan salah satu bagian dari seni pewayangan di Jawa Timuran, yang hidup dan berkembang secara lokal. Mempunyai ciri-ciri khusus yang menunjukkan perbedaan gaya dari daerah lain. Pertunjukkan Wayang Topeng Malangan hidup didaerah pedesaan yang mayoritas penggemarnya adalah kaum petani. Bahkan, masyarakat mengakui bahwasannya Wayang Topeng Malangan adalah wayang milik orang desa. Oleh karena itu yang menyebabkan Wayang Topeng Malangan tidak dikenalkan kemasyarakat luas. Karya ilmiah ini akan membahas kesenian Wayang Topeng Malangan yang selama ini banyak masyarakat diluar kota Malang yang belum mengetahui dan supaya kesenian ini tidak sirna

2. Rumusan Masalah

A. Bagaimana sejarah Wayang Topeng Malangan?

B. Bagaimana struktur Pertunjukan Wayang Topeng Malangan sekarang ini?

C. Bagaimana Wayang dalam Islam?

3. Tujuan

A. Untuk mengetahui sejarah Wayang Topeng Malangan

B. Untuk mengetahui struktur pertunjukan Wayang Topeng Malangan sekarang

C. Untuk mengetahui Wayang dalam Islam

4. Manfaat

Penulisan karya ilmiah ini bermanfaat bagi pembaca, karena pembaca bisa mengetahui salah satu tradisi yang ada di Malang yaitu wayang topeng malangan. Tradisi wayang sekarang hampir punah disebabkan banyak masyarakat yang tidak percaya lagi dengan mitos atau cerita zaman dahulu. Makalah ini ditulis supaya tradisi yang hampir punah ini masih dilestarikan meskipun zamannya sudah modern. Kerena didalam tadisi wayang banyak manfaatnya bagi masyarakat seperti beramal kepada fakir miskin, gotong royong dan lain-lain.

5. Teori

Dalam makalah ini terdapat dua teori yaitu teori religi dan hiburan. Terdapat teori religi karena ada ritual keagamaannya,seperti memanggil roh nenek moyang supaya memberikan pertolongan, dengan jalan memasuki topeng dan dapat menjalin hubungan silaturahmi antar tetangga dan saudara. Teori hiburan karena masyarakat bisa berwisata dan berkumpul bersama dengan keluarga dan tetangga.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah Wayang Topeng Malangan

Wayang Topeng Malangan merupakan tradisi kultural dan religius masyarakat Jawa. Namun wayang topeng tidak diperuntukkan acara-acara kesenian seperti sekarang ini. Wayang Topeng waktu itu yang terbuat dari batu adalah bagian dari acara persembahyangan. Barulah pada masa Raja Erlangga, topeng menjadi kesenian tari. Topeng digunakan menari waktu itu untuk mendukung fleksibilitas si penari. Sebab waktu itu sulit untuk mendapatkan riasan, untuk mempermudah riasan, maka para penari tinggal mengenakan topeng di mukanya.

Karena wilayah Jawa waktu itu adalah area berkembangnya Agama Hindu yang datang dari India, maka cerita-cerita wayang, termasuk wayang topeng juga mengambil cerita dari India, seperti kisah kisah Mahabarata dan Ramayana. Henri Supriyanto penulis buku Wayang Topeng Malangan menyatakan bahwa “ada pola berfikir India, karena sastra yang dominan adalah sastra India. Jadi cerita Dewata, cerita pertapaan, kesaktian, kahyangan, lalu kematian itu menjadi muksa. Sehingga sebutan-sebutannya menjadi Bhatara Agung. Jadi itu peninggalan leluhur kita, sewaktu leluhur kita masih menganut agama Hindu Jawa, yang orientasinya masih India murni”[1]. Begitu dominannya sastra India waktu itu, diakui dalam banyak hal, terutama kasusastraan Jawa waktu itu banyak menyerap dan membumikan nilai-nilai India yang integrated dengan Agama Hindu itu di tanah Jawa.

Kemampuan untuk menyerap segala sesuatunya dan membumikan dalam nilai kejawaan juga banyak terjadi tatkala Islam dan Jawa mulai bergumul dalam konteks wayang topeng. Wayang topeng dengan mengambil cerita yang sekarang banyak berkembang didaerah Sunda adalah bagian dari upaya Islam untuk merebut hati orang Jawa. Proses Islamisasi Wayang topeng oleh para wali dengan menampilkan kisah marmoyo sunat adalah sederet cerita bagaimana Islam memproduksi nilai didalamnya.

Wayang Topeng Malangan pada zaman sekarang ini biasanya diadakan setiap Bulan Selo ,dalam perhitungan kalender Jawa. Selalu dirayakan upacara ritual bersih desa dan kirap topeng[2]. Acara ritual itu merupakan tradisi turun temurun diwilayah itu. Wayang Topeng Malang tumbuh dan berkembang secara lisan. Seperti yang dikatakan Ki Wuryan bahwa pedhalangan gaya malangan tidak mempunyai pujangga, maksudnya pedhalangan Malangan hidup secara turun-temurun tanpa memiliki buku pegangan atau pakem tertulis sebagaai panutan.[3] Dhalang-dhalang Malang banyak yang bukan keturunan dhalang, mereka sebagaian besar belajar atas dorongan bakat alami, yang kemudian digurukan kepada dhalang-dhalang yang dianggap senior.

Pertunjukkan wayang Topeng Malangan yang ada sekarang ini merupakan pembaharuan dari tradisi wayangan sebelumnya yang mewujudkan suatu bentuk pertunjukkan multidimensi, sebagai manifesti pembaharuan unsur-unsur kesenian daerah setempat. Kini, dalam perkembangannya Wayang Topeng Malangan nyaris hanya terdapat empat tempat persemaian Topeng Malangan. Tumpang, Pakisaji, Wonosari dan Kromengan merupakan situs utama produksi dan kreasi Topeng Malangan. Namun kesemuanya secara homogen menampilkan cerita-cerita panji sebagai relasi pararelitas historis dengan sejarah Malang sendiri yang panjang yang sangat resisten terhadap kekuasaan Mataram. Akan tetapi yang pasti adalah topeng merupakan wujud kepribadian ganda (double coding), sebuah kedok masyarakat brang wetan untuk tidak menapilkan jatidiri yang sebenarnya agar tidak dapat teridentifikasi secara jelas oleh pusat pusat kekuasaan. Ini tentu sebuah siasat cerdas.

B. Struktur Pertunjukan Wayang Topeng Malangan

Struktur pertunjukkan Wayang Topeng Malngan sekarang pada umumnya diawali oleh sajian gendhing-gendhing[4] giro, kemudian tari ngerema (gaya putera atau putri) sebagai ucapan selamat datang kepada penonton. Setelah tari ngrema dilanjutkan lawakan ludruk (kadang-kadang tanpa pelawak), kemudian gendhing-gendhing talu wayangan. Dalam sajian pakeliran siklus waktunya dibagi lima tingkatan yaitu: Pathet sepuluh (Untuk gendhing talu saja), Pathet wolu, Pathet sanga, Pathet miring dan Pathet serang. Biasanya sebelum tancep kayon, sajian diakhiri dengan penampilan tari beskalan dan tayuban, oleh boneka perempuan dan laki-laki, yang diiringi gendhing ijo-ijo dilanjutkan gonjor

C. Wayang dalam Islam

Wayang merupakan hasil budaya yang memiliki nilai yang bermanfaat bagi hidup dan kehidupan manusia. Kesempuranaan wujud wayang kulit yang dikenal sekarang ini, tidak terlepas dari peran para ahli masa lampau. Penciptaan wayang didasari oleh keyakinan yang dianut masyarakat pada saat itu. Dalam hal keyakinan atau kepercayaan yang dianut itu sangat menentukan terhadap tingkah laku atau perbuatan manusia, tidak ketinggalan kegiatan berkesenian juga mendapat pengaruh yang cukup besar.

Agma Islam yang ada pada dasarnya tidak menghendaki perwujudan mahluk hidup dalam bentuk nyata tidak sampai mengurangi nilai seni rupa wayang dengan menambah dan menyempurnakan seni wayang[5] Para ahli masa lalu mengatakan “bahwa kesenian yang ada sebelum Islam adalah haram hukumnya”.[6] Seni pada masa sebelum Islam diantaranya : wayang kulit yang diasumsikan mirip dengan wayang Bali, kemudian wayang Beber. Beberapa hasil seni seperti tersebut diatas, dianggap medatangkan kemusyrikan sehingga ditinggalkan. Namun dalam masa Islam ini wayang kulit menjadi sangat popular dan semakin sempurna penampilannya, ini merupakan suatu masalah yang perlu segera mendapat jawaban. Melihat kenyataan itu para ahli mencari jalan keluar agar wayang tidak bertentangan dengan syariat, melihat telah dikenalnnya wayang dalam masyarakat dan telah menjadi salah satu kegemarannya, merupakan aset besar untuk keperluan dakwah. Oleh karena itu akan menguntungkan bila dimanfaatkan sebagai sarana penyebaran agama Islam.

Wayang sebelum Islam penggambarannya berdasar wujud yang dilihat dengan sedikit stilasi sesuai dengan materi dan tekniknya, sehingga hasilnya masih sangat dekat dengan wujud manusia. Berdasarkan pengalaman dan analisis terhadap wayang sebelum Islam, maka para ahli membuat wayang baru dengan stylasi berdasarkan pengertian tentang manusia. Oleh karena itu muncul penggambaran yang dipanjang-panjangkan. Seperti[7]: hidung lancip yang berlebihan untuk tokoh alusan, leher dibuat sebesar lengan dan panjang, kemudian tangannya panjangnya hingga menyentuh kaki. Kemudian penggambaran mulut dibuat berliku-liku, yang tidak dijumpai manusia. Stylasi ini dilakukan hingga berhasil menggambarkan bentuk wayang yang kemudian dikenal seperti sekarang ini. Berkaitan dengan perwujudan wayang dalam masa Islam ini satu pendapat mengatakan bahwa: sesungguhnya bentuk wayang merupakan suatu kaligrafi huruf Arab dari tulisan yang berbunyi Allah.

Dalam hal esensi yang disampaikan dalam cerita-ceritanya tentunya disisipkan unsur-unsur moral ke-Islaman. Dalam lakon Bima Suci misalnya, Bima sebagai tokoh sentralnya diceritakan menyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Esa itulah yang menciptakan dunia dan segala isinya. Tak berhenti di situ, dengan keyakinannya itu Bima mengajarkannya kepada saudaranya, Janaka. Lakon ini juga berisi ajaran-ajaran tentang menuntut ilmu, bersikap sabar, berlaku adil, dan bertatakrama dengan sesama manusia.[8]

Dalam sejarahnya,para Wali berperan besar dalam pengembangan pewayangan di Indonesia. Sunan Kali Jaga dan Raden Patah sangat berjasa dalam mengembangkan Wayang. Bahkan para wali di Tanah Jawa sudah mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian. Pertama Wayang Kulit di Jawa Timur, kedua Wayang Wong atau Wayang Orang di Jawa Tengah, dan ketiga Wayang Golek di Jawa Barat. Masing masing sangat bekaitan satu sama lain yaitu “Mana yang Isi (Wayang Wong) dan Mana yang Kulit (Wayang Kulit) dan mana yang harus dicari (Wayang Golek)”.

Disamping menggunakan wayang sebagai media dakwahnya,para wali juga melakukan dakwahnya melalui berbagai bentuk akulturasi budaya lainnya contohnya melalui penciptaan tembang-tembang keislaman berbahasa Jawa, gamelan, dan lakon Islami. Setelah penduduk tertarik, mereka diajak membaca syahadat, diajari wudhu’, shalat, dan sebagainya. Sunan Kalijaga adalah salah satu Walisongo yang tekenal dengan minatnya dalam berdakwah melalui budaya dan kesenian lokal.Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, layang kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.

Kelebihan intelektual yang mereka miliki sebagai kelompok yang datang dari peradaban yang lebih maju mereka abdikan untuk membangun masyarakat Indonesia pada saat itu. Sarana lain yang mereka lakukan dalam dakwah mereka adalah dengan membentuk keluarga-keluarga Islam dengan jalan menikahi penduduk pribumi serta putri para raja.Selanjutnya mereka berhasil mengislamkan keluarga kerajaan serta mengangkat harkat hidup mereka dari segi intelektual maupun ekonomi.Para penyebar agama Islam yang kebanyakan merupakan pedagang memiliki bargaining position yang kuat serta disegani oleh masyarakat.Selain itu akhlak mereka juga mampu mengambil simpati masyarakat.

Kesimpulan

Wayang Topeng Malangan merupakan salah satu bagian dari seni pewayangan Jawa Timuran yang hidup dan berkembang secara local. Wayang Topeng Malangan tidak berkesan sebagai kesenian keraton, melainkan sebagai kesenian rakyat terutama untuk para petani yang diwarnai oleh bahasa etnis Jawa Timuran, serta dilatar belakangi oleh budaya pesisir yang mayoritas terdiri dari masyarakat agraris. Kesenian ini tumbuh dan berkembang secara lisan dan tidak memiliki pujangga. Wayang Topeng Malangan merupakan tradisi lisan.

Daftar Pustaka

averroes.or.id/.../topeng-malangan-simbol-pertarungan-berbagai-identitas.html

community.um.ac.id/showthread.php?63712-Sejarah-Wayang

Sunarto, Seni Gatra Wayang Kulit Purwa(Jakarta: Dahar Prize, 1997)

Suyanto, Wayang Malangan( Surakarta: Citra Etnika Surakarta,2002)

Wiyoso Yudoseputro, Pengantar Seni Rupa Islam Di Indonesia( Bandung: Angksa,1986)



[1] averroes.or.id/.../topeng-malangan-simbol-pertarungan-berbagai-identitas.html

[2] Ibid.

[3] Suyanto, Wayang Malangan( Surakarta: Citra Etnika Surakarta,2002) hlm 162

[4] Gendhing adalah lagu atau nyanyian Jawa

[5] Wiyoso Yudoseputro, Pengantar Seni Rupa Islam Di Indonesia( Bandung: Angksa,1986) Hal.93

[6] Sunarto, Seni Gatra Wayang Kulit Purwa(Jakarta: Dahar Prize, 1997) Hal.30

[7] Sunarto, Seni Gatra Wayang……Hal.31

[8] community.um.ac.id/showthread.php?63712-Sejarah-Wayang